Belajar Dari Sebuah Tangan Kiri

image

gambar diambil dari sini

Obrolan santai sebelum kami makan siang bersama beberapa hari lalu, sambil duduk menanti mas helmi berganti pakaian dan merapihkan perlengkapan sekolah yang dibawanya tadi. Dan obrolan santai ini tiba-tiba menjadi perbincangan yang cukup serius meski tetap berusaha untuk di bawa santai karena di depan anak-anak…

Berawal dari mas helmi yang menawarkan jajanan sekolah crepes kepada ayahnya, entah karena tidak sengaja atau kurang fokus karena sedang menikmati jajanan yang sudah beberapa hari ini dia inginkan, mas helmi menyodorkan dengan menggunakan tangan kiri untuk menyuap crepes kepada ayahnya.

Kaget dan saya langsung bicara
“Mas helmi, kok pakai tangan kiri”

” O iya, maaf ya ayah” jawab helmi

Disambung oleh ayahnya
“Tangan kiri biasanya untuk apa mas?”

“Untuk bersih-bersih setelah buang air yah” kata helmi

“Lain kali tidak diulang ya nak, sebaiknya menggunakan tangan kanan” disambung oleh ayah

Saya lalu menambahkan,
“Sebaiknya memberi memang menggunakan tangan kanan mas dan bertingkah laku yang baik, itu yang disebut dengan sopan. Bicara dengan kata-kata yang baik kepada siapa saja, itu yang disebut dengan bahasa santun. Semua harus dimulai dan dibiasakan dari kecil sehingga akan jadi kebiasaan baik sampai seumur hidup.”

Sebagaimana disebutkan dalam HR. Al Bukhari no 5376 & Muslim no 2022
“Wahai nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu”

Lalu cerita beralih, ayah menceritakan pengalaman di tempat kerja yang kebetulan bisa menjadi contoh atas penjelasan bunda tadi….

“Ayah bermaksud memberikan selembar voucher kepada kawan kerja ayah. Saat ayah ketuk pintu ruangannya, ternyata sudah ramai dengan beberapa orang didalam ruangan. Di dekat pintu berdiri seorang karyawan office perempuan sedang memegang telpon wireless di tangan kanan dan hp di tangan kiri. Tiba-tiba dia menyodorkan tangan kirinya yang sedang memegang hp untuk mengambil voucher dari tangan ayah dan hanya menggunakan 2 buah jari tanpa ada bicara apa-apa. Refleks ayah tarik lagi tangan ayah, sambil bilang *saya memberikan ini dengan tangan kanan lho*
Dia terlihat kaget dengan respon ayah, setelah itu baru dia meletakkan hpnya diatas meja, memindahkan telpon wireless nya ke tangan kiri, dan akhirnya mengambil lembaran voucher dengan tangan kanan. Sambil bilang *maaf ya mas*”

Obrolan dengan tema seperti ini sering kami ulang-ulang di depan anak-anak. Entah kami ini termasuk orang tua yang anti mainstream, langka, unik atau apalah sebutan lain yang dianggap berbeda dari kebanyakan orang umum saat ini. Kami merasa semakin lama sopan santun tak lagi punya makna berarti dalam lingkungan kita. Pendidikan dan status sosial yang tinggi tidak menjamin mereka punya etika bersopan santun.

Mengamati lingkungan sekitar kami dan hasilnya agak sedikit ngeri, sudah menjadi hal yang dianggap wajar memberi panggilan kepada teman bahkan anak dengan nama binatang, anak yang berbicara kasar bahkan bernada mengancam kepada orang tua/kakak/adiknya atau sebaliknya, kata makian yang silih berganti diucapkan oleh anggota keluarga ketika marah. Miris sekali mendengar dan melihatnya, bagi kami itu adalah hal yang mengerikan terbayang akan jadi seperti apa akhlak anak-anak kita nantinya. Saat tak lagi ada etika, sopan santun maka akan hilang pula akhlak dari anak2 kita…
Naudzubillah…

Kini zaman semakin maju dan tantangan hidup semakin keras. Bukan hanya anak-anak yang memiliki kewajiban untuk  belajar, tapi para orang tua termasuk kami juga harus lebih extra untuk belajar meningkatkan kualitas diri agar PR besar tentang pembentukan karakter anak akan bisa tercapai.

Anak-anak akan merasa nyaman tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang baik, orang tua akan selalu ada dan siap kapanpun saat anak-anak membutuhkan. Ayah dan bunda berbagi peran dan saling mengisi dalam proses pembentukan karakter anak…

Sungguh kami sebagai orang tua masih memiliki banyak kekurangan, terkadang ilmu parenting itu lebih mudah untuk dibaca dan dipahami dibanding praktek pada kenyataan mendidik anak-anak secara langsung. Perjuangan dengan kesabaran dan keikhlasan masih menjadi PR besar terutama bagi saya sebagai Bunda dari 2 jagoan hebat, semoga bisa menjadi madrasah yang semakin baik dari hari ke hari untuk mereka…. Aamiin

Tulisan ini hanyalah reminder bagi kami sebagai orang tua….

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s