Berpuasa Karena Allah itu Menyenangkan

image

Mengajarkan dan menanamkan keimanan pada anak merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua. Amanah Allah yang luar biasa ini hendaknya kita isi hati dan jiwa nya oleh rasa cinta dan keimanan akan Sang Maha Pencipta. Mengenalkan Allah Sang Maha Pencipta segala isi alam semesta, yang memberikan nafas pada setiap makhluk termasuk manusia makhluk ciptaan Nya yang paling sempurna.

Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma berkata,

Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya.
Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya
serta ketaatannya kepada dirimu.


(Tuhfah al Maudud hal. 123)

Maka kenalkan anak akan rasa syukur pada Sang Pencipta, yang telah memberikannya kesempurnaan fisik, hela nafas, keluarga yang sempurna dan atas semua nikmat yang telah Allah beri pada kita. Membiasakan bersyukur atas rezeki dan nikmat yang telah Allah beri setiap harinya, membuat kita akan selalu teringat pada Allah.
Ramadhan sebagai ajang kita belajar, belajar mengenalkan puasa dan maknanya kepada anak-anak. Belajar mengenalkan ibadah-ibadah lainnya sebagai pendukung puasa Ramadhan.  Begitu pun dengan Helmi Hazim, jagoan kami yang paling besar. Kami mulai mengenalkan puasa di usianya yang ke-6 bulan, Ramadhan pertama baginya. Meskipun belum bisa bicara, tapi kami yakin saat itu Helmi mengerti apa yang kami jelaskan. Meskipun hanya sekedar mengenalkan secara sederhana, seperti :

> Sebelum tidur malam, kami bisikkan setelah do’a sebelum tidur bahwa Ayah dan Bunda akan bangun jam 3 pagi nanti untuk sahur. Helmi boleh ikut bangun atau tetap tidur kalau masih mengantuk.
> Sebelum imsak sengaja kami membaca niat dengan suara dikeraskan agar Helmi bisa ikut mendengar dan insyaAllah dapat mengingat.
> Ketika menunggu waktu maghrib untuk berbuka, saya sering mengajaknya bicara. Sebentar lagi Ayah dan Bunda sudah boleh berbuka puasa karena sudah masuk waktu maghrib.
> Membacakan do’a berbuka puasa juga sengaja dengan suara keras agar Helmi mengetahui dan berharap bisa mengingatnya.

Hal yang sama selalu kami lakukan setiap kali bulan Ramadhan tiba, dengan maksud Helmi dapat mengingat kebiasaan dan kegiatan saat Ramadhan. Dan Alhamdulillah dia selalu semangat ikut bangun sahur, bahkan dapat dengan tenang menunggu Bunda menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka.

☆Tahun Pertama☆

Dan pertama kalinya saat usia 4 tahun, Helmi meminta untuk ikut berpuasa. Meminta sendiri tanpa kami paksa, kami hanya mengatakan beberapa hari sebelum Ramadhan bahwa Ayah dan Bunda akan kembali berpuasa karena Ramadhan akan segera datang. Kaget, bahagia sekaligus berdebar, karena yang terpikir
“Benar tidak ya Helmi mau ikut puasa?”
“Kuat tidak ya nanti klo ikut puasa?”
“Apa kesehatannya tidak terganggu jika ikut berpuasa?”
“Bagaimana memulai mengajarkan puasanya, setengah hari atau satu hati atau bagaimana?”

Berkali-kali kami tanyakan kesungguhan niatnya untuk ikut berpuasa, dan jawabannya tetap sama…

“Iya, mas helmi mau ikut puasa bersama Ayah dan Bunda”
dikatakan dengan penuh keyakinan.

Akhirnya bismillah kami izinkan Helmi untuk ikut berpuasa. Dah kami mencoba membuat kesepakatan, bahwa :
Mas Helmi puasa sampai jam 12.00 setalah itu boleh makan nasi dan minum.
Setelah selesai, lanjut puasa lagi sampai maghrib dan bisa berbuka bersama ayah dan bunda.
Oleh meminta makanan tertentu untuk berbuka saat maghrib.
Senang sekali ketika ayah dan bunda mengizinkannya untuk ikut berpuasa, semangatnya memang luar biasa.
Dan pengalaman puasa pertamanya dilalui dengan lancar, full satu bulan puasa setengah hari dan bersambung sampai dengan maghrib.
Meskipun penuh dengan perjuangan membujuk dan mengingatkan kembali niat awalnya berlatih puasa. Karena waktu itu pengalaman pertama puasa dan tetap menjalani aktivitas sekolah selama kurang lebih 1 minggu. Kebanyakan teman-teman TK nya belum berpuasa, masih ada yang tetap membawa bekal makanan. Helmi masih bisa menahan diri dari godaan makanan, tapi yang paling berat adalah menahan rasa haus saat pulang sekolah. Beberapa kali mengeluh panas dan haus, tiba-tiba ayah kasih ide cemerlang.

“Mas Helmi mandi trus berendam aja dulu biar badannya segar”

Dan terbukti berhasil, saat sudah tidak kuat untuk menahan haus. Langsung minta mandi dan berendam. Semuanya proses, tapi akan jadi cerita seru kelak saat mereka dewasa. Suka duka belajar berpuasa dan belajar memaknai puasa.

☆Tahun kedua☆

Jelang ramadhan tahun kedua, saya dan ayah anak-anak langsung berdiskusi tentang apa yang akan kami terapkan pada Helmi. Akhirnya diputuskan mulai tahun ini Helmi belajar puasa penuh 1 hari, intensif belajar iqro dan hafalan surat-surat pendek, dan mulai belajar sholat 5 waktu plus tarawih dan witir, dan mengajarkan menyisihkan sebagian miliknya untuk sedekah.
Agar semangat saya mencoba membuatkan papan aktivitas ramadhan, dengan target seperti yang disebutkan diatas. Dan kami tambahkan “reward” di setiap minggunya, jika semua target terpenuhi.
Alhamdulillah, masih sekitar 1 bulan lagi menjelang Ramadhan tapi Helmi sudah begitu bersemangat.

“Mas helmi ga sabar lagi nda, pengen cepat-cepat bulan puasa”
“Berapa hari lagi kita mulai puasanya nda_ayah?”
“Nanti mas helmi puasa lagi ya, skrg sampai maghrib kan sudah besar”

Bahagia sekali dengar kalimat-kalimat itu keluar dari anak umur 6 tahun. Begitu bersemangat dalam menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim.
Menjadi lebih bersemangat ketika tahu bahwa bundanya sudah membuatkan papan aktivitas untuk kegiatan Ramadhan nya kali ini. Apalagi ada reward menarik yang ditunggu-tunggu. Sebenarnya reward tersebut hanya hal-hal sederhana saja, ada yg kami sesuaikan juga dengan kebutuhannya. Seperti cokelat, boleh request menu takjil, jaket baru (karena yang lama sudah mulai sempit) dan terakhir mudik lebaran (meskipun setiap tahun selalu dilakukan). Sederhana sekali tapi sangat ditunggu-tunggu oleh Helmi.
Dan Alhamdulillah Ramadhan kedua ini kembali berjalan lancar, puasa penuh 1 hari, iqro dan hafalan yang sudah lumayan banyak, sholat 5 waktu dan tarawih yang juga full, uang yang disisihkan untuk sedekah juga sudah diberikan kepada yang berhak melalui kotak amal masjid. Bahagia dan terharu, melihat semangatnya yang luar biasa. Meskipun setiap hari bundanya harus terus putar otak untuk menu takjil agar helmi juga semangat terus menjalani puasanya.
Tidak pernah bermaksud pamer akan keberhasilan anak, tapi niat kami hanya ingin berusaha membekali anak-anak dengan akhlak dan aqidah yang baik. Tahu dan mengerti apa kewajibannya sebagai muslim, tahu mana yang baik dan tidak baik, halal dan haram. Bagi kami itu sangat penting, karena hal itu sebagai fondasi anak dalam melangkah ke depannya.
Mengenai berpuasa Allah swt berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 183 dan 184,

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.
Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan (puasa), maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui


(QS. Al Baqarah: 183 dan 184)

Perlahan kami mulai mengajarkan helmi tentang rukun Islam di puasa tahun kedua ini. Mengenalkan perintah sholat dan zakat disamping tentang perintah berpuasa. Tentang sholat dan zakat Allah berfirman,

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus,
dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat;
dan yang demikian itulah agama yang lurus.


(QS. Al Bayyinah: 5)

Mengajarkan anak-anak memang tidak mudah, mereka akan lebih mudah untuk meniru. Karenanya ketima orang tua berbuat baik, menjalankan kewajiban sebagai muslim dengan baik, maka insyaAllah anak-anak akan meniru dan menjadi lebih mudah untuk dibentuk.
Sarana penunjang dalam belajar tentang Islam juga perlu diperhatikan, membuat hiasan dinding atau poster-poster sederhana berisi tentang rukun islam, nama-nama nabi/malaikat/asmaul husna, tata cara sholat dan berwudhu. Atau dengan membuat diorama tentang haji dan kisah nabi. Terbiasa melihat, tertarik untuk membaca, berkali-kali melihat dan membaca, harapannya anak akan menjadi hafal dan paham dengan sendirinya. Bahkan terkadang rasa penasaran membuat banyak pertanyaan mengalir dari celoteh mereka.
Semoga Ramadhan tahun-tahun ke depan akan menjadi lebih mudah dan semakin baik lagi dalam hal ibadah pendukung. Tak hanya lagi sekedar menahan lapar dan haus, tapi lebih memahami makna berpuasa sesungguhnya. Pelajaran dalam mengajarkan Helmi berpuasa, semoga bisa menjadi semangat kami untuk memperbaiki diri. Agar dapat mengajarkan Mirza dengan lebih baik lagi. Terus belajar untuk memperbaiki diri, menjadi orang tua yang terbaik bagi.jaglan-jagoan kami Helmi Hazim dan Mirza Muhammad. Aamiin…..

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s