Museum Keprajuritan TMII

image

Taman mini mempunyai magnet tersendiri di daerah timur Jakarta. Tempat wisata dan liburan yang cukup ramai dan masih diminati banyak masyarakat berbagai golongan, baik dari dalam kota Jakarta sendiri ataupun yang datang jauh-jauh dari luar daerah. Dan menurut saya pribadi, taman mini adalah tempat wisata edukatif yang cukup baik dan terjangkau untuk semua orang. Mulai dari ciri khasnya berupa anjungan-anjungan rumah adat dari berbagai provinsi sampai dengan berbagai museumnya.

Sejak kunjungannya ke 2 museum di TMII saat TK B kurang lebih setahun lalu, tiba-tiba Helmi begitu bersemangat meminta liburan ke museum transportasi dan keprajuritan kembali. Helmi katakan seru pergi ke museum. Anak usia 6 tahun bisa mengatakan ke museum itu seru adalah hal yang cukup “amazing” untuk kami. Dan akhirnya liburan weekend kemarin, kami memenuhi janji mengajak berkeliling museum.

Namun sayang saat sampai di museum transportasi, ada spanduk besar bertuliskan
“Sedang dalam perbaikan”
dan pesawat yang menjadi magnet bagi pengunjung museum ini juga ditutup. Operasional museum tetap berjalan hanya terbatas oleh kegiatan renovasi yang sedang berjalan. Dan kami pun memutuskan untuk kembali lagi lain waktu, karena khawatir debu dari bahan bangunan juga kurang baik untuk kesehatan anak-anak.

Semangat yang luar biasa dari Helmi sejak berangkat dari rumah terasa makin menggebu-gebu begitu sampai di gerbang museum keprajuritan. Dan ketika kami berjalan dari parkiran ke arah museum, mengalirlah cerita pengalaman berkunjung saat bersama teman-teman TK B masih begitu kuat dan begitu berkesan. Namun di tengah perjalanan kami mendengarkan celoteh Helmi, tiba-tiba bau tidak sedap mulai tercium. Begitu menyengat, terutama saat kami hendak menaiki armada kapal yang ada di bagian depan museum. Menurut Ayah, sepertinya bau berasal dari lumpur danau buatan tempat bersandar kapal yang mulai mengering.

Suasana itu langsung membuat rasa tidak nyaman, jujur hanya karena melihat semangat Helmi kami memutuskan bertahan dan melanjutkan petualangan ini.

image

Menurut cerita, danau buatan tempat 2 buah kapal bersandar di bagian depan museum menggambarkan bahwa negara kita adalah negara bahari. Dan 2 kapal yang bersandat tersebut adalah Kapal Banten dan Pinisi dari Sulawesi Selatan, yang menggambarkan kekuatan maritim Indonesia dari ujung barat sampai dengan ujung timur.

image

Dibagian tembok bagian bawah diluar museum terdapat beberapa relief yang menggambarkan perjuangan panjang bangsa Indonesia dari abad VII sampai dengan abad XIX, antara lain sewaktu Raden Wijaya mengusir tentara Cina pada tahun 1292, pertempuran di Benteng Sao Paolo pada tahun 1575 di Maluku dan kisah penyerangan Sultan Ageng ke Kastel Batavia pada tahun 1628.

Masuk ke dalam museum, dibagian belakang terdapat panggung pertunjukkan yang cukup luas. Panggung tersebut dikelilingi oleh patung-patung perunggu para pahlawan nasional seperti Cut Nyak Dien, Gajahmada dan Pattimura.

Di bagian atas tepatnya lantai 1 adalah ruangan diorama-diorama yang menggambarkan kejadian-kejadian heroik perjuangan para pahlawan di beberapa bagian wilayah Indonesia. Terdapat juga patung-patung yang menggambarkan prajurit dengan pakaian perjuangan khas daerahnya masing-masing. Ada juga beberapa barang dan foto memorabilia perjuangan, panji-panji serta beberapa senjata meriam yang pernah digunakan.

image

image

image

image

Sayangnya lagi, ruangan-ruangan museum tampak kurang terawat. Dan bau menyengat dari luar juga masih tercium dari dalam ruangan. Ruangan yang tampak gelap dan berdebu, sehingga terkesan “mengerikan”. Tidak ada guide yang bisa membantu menceritakan tentang diorama-diorama yang ada. Sehingga suasana edukasi juga kurang begitu terasa.
Yang tampak menonjol sejak kami masuk gerbang museum hanyalah sekelompok anak-anak remaja tanggung atau menjelang dewasa yang sibuk mencari spot untuk berfoto. Atau bahkan hanya sekedar mengobrol berdua, pemandangan yang sangat tidak nyaman.

Andai saja pemerintah bisa lebih memberikan perhatian terhadap perawatan-perawatan peninggalan sejarah dan fasilitas pendukungnya, mungkin museum akan jadi destinasi liburan yang dinanti-nanti oleh anak-anak. Tak ada lagi kesan kumuh, gelap, kotor dan mengerikan dari museum.

Bagaimana dengan museum dan fasilitas pendukungnya di daerah teman-teman? Apakah lebih baik?
Mari berbagi cerita….:)

Note : patung-patung sengaja tidak di dokumentasikan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s