Pendidikan adalah sebuah Kebutuhan

Jadi terusik untuk menuliskan sesuatu setelah membaca postingan di blog adik saya winwin.
http:// https://winwinfaizah.wordpress.com/2015/05/13/sekolah-desa-mental-juara/

Bangga dan terharu melihat semangat anak-anak dan guru-guru untuk terus meningkatkan kemampuan di tengah segala keterbatasan yang ada. Berusaha membuat keterbatasan itu menjadi motivasi untuk selalu berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Menurut winwin, mereka semua berasal dari pelosok sebuah desa tapi semangat mereka membuat kata desa menjadi lebih bermakna karena semangat yang luar biasa.

Berbanding terbalik dengan keadaan disekitar saya. Yang katanya ibu kota negara, semua orang berlomba-lomba untuk bisa tinggal di kota impian banyak orang ini. Meskipun saya sendiri hanya karena pekerjaan suami yang memaksa kami tinggal disini. Yesss, Jakarta sebuah kota modern yang segala ada. Tapi masih ada segelintir orang yang masih jauh dari pola pikir modern, mengesampingkan pendidikan anak-anaknya.

Orang tua memiliki penghasilan, bisa mengontrak rumah petak dengan harga sewa yang menengah, anak perempuannya usia sekolah setiap hari hanya asyik bermain keliling sekitarnya mencari teman yang sekolahnya siang atau yang sudah pulang sekolah. Aktivitas harian hanya bermain, mengaji sesekali, tutur kata jauh dari santun, perilaku jauh dari sopan. Sedih rasanya, kelak apa bekalnya dalam menjalani hidup yang semakin keras.
Kehidupan keluarganya cukup, tiap hari anak-anaknya bisa “jajan” ke warung dekat rumah beberapa kali. Mungkin dalam 1 hari, anak-anaknya menghabiskan sekitar 5.000-10.000 rupiah untuk uang jajan. Ayahnya merokok, paling tidak sekitar 1 bungkus dalam 1 hari. Tapi untuk anak sekolah mengeluh tidak ada biaya, padahal SDN bisa gratis jika orang tuanya mau berusaha mengurus.

Bagaimana anak-anak di daerah lain, pelosok atau desa atau apalah namanya tetap berjuang untuk terus bersekolah. Keterbatasan sarana dan prasarana menjadikan motivasi bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan diri. Ada yang harus jalan kaki beberapa km untuk pergi ke sekolah, menyeberang jembatan tali, naik perahu seadanya, menyeberang sungai, keterbatasan yang tidak menjadikan semangat mereka meredup. Menghadapi bahaya dengan penuh keberanian demi sebuah pendidikan, demi cita-cita menjadi lebih baik.
Sementara di Jakarta sebuah kota besar dengan berbagai sarana dan prasarana sekolah yang mendukung bahkan menggratiskan biaya sekolah negeri. Masih ada yang tidak peduli, tidak memperhatikan, tidak memperdulikan dan tidak merasa butuh sebuah pendidikan. Miris, menyedihkan atau apa lagi kata-kata yang tepat untuk mengggambarkan keadaan ini….:(

Dalam sebuah hadist disebutkan

“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua terhadap anaknya selain pendidikan yang baik” (HR. Al Hakim : 7679)

Pendidikan adalah tanggung jawab orang tua sebagai bekal anak dalam menjalani kehidupannya kelak. Semoga tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang tidak sekolah, semoga semakin banyak orang tua yang menyadari bahwa pendidikan itu penting dan merupakan hak anak dan kewajiban orang tua.

Berjuang untuk masa depan anak-anak kita yang lebih baik, karena langkah mereka masih panjang. Kehidupan yang akan mereka hadapi akan lebih menantang. Bekali dengan aqidah, akhlak dan pendidikan yang baik. Dan do’akan mereka agar menjadi orang-orang hebat yang mampu menghebatkan sekitarnya. Seperti banyak guru2 hebat diluar sana yang dengan penuh keikhlasan dan ketulusan mendidik anak2 Indonesia dengan penuh cinta….

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. hiks, sayang banget kalau ada yang ‘cukup’ secara materi tapi malah ogah-ogahan mbak 😥 di kampungku, uang Rp. 5.000 dipakai untuk ongkos transport sekaligus uang jajan, padahal transportnya antara Rp. 3.000 sampai Rp. 4.000. Untungnya sekarang banyak bantuan dari pemerintah, walaupun tentu saja tidak hanya efek positif yang terasa, negatifnya juga ada, karena merasa ‘sekolah gratis’ beberapa anak justru menurun semangat belajarnya 😦

    terima kasih sharingnya ya mbak Ning, setidaknya memberi semangat lebih untukku untuk semakin bersyukur, memiliki murid-murid yang bersemangat seperti muridku, walau kami punya segudang keterbatasan.

    *peluk erat*

    Like

    1. ninghendro says:

      Kenyataannya begitu, ada uang jajan dan rokok untuk sang kepala keluarga tapi mengabaikan masa depan anak-anaknya.
      “Sekolah Gratis” karena bantuan pemerintah di kota yang serba ada ini win, membuat banyak murid “meremehkan” sekolah, para guru “mengabaikan” hak murid akan ilmu pengetahuan, orang tua “mengesampingkan” hak anak untuk mendapat yang terbaik dr kemampuan ortunya.
      Warna warni pendidikan kita, semoga makin banyak generasi muda yang bisa menjadi guru2 hebat yang kelak mampu menjadikan murid2nya manusia yang luar biasa….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s