Fulltime mom or Working mom

Dari semalam tiba-tiba merasa tergerak untuk menggerakkan tangan ini mengetik tombol-tombol keyboard sekedar menuangkan apa yang ku baca dan ku pelajari dari sharing bersama teman-teman di group Islamic Parenting Community.

Tiba-tiba semalam mengalir tema tentang Fulltime Mom (FTM) or Working Mom (WM),  dan tiba-tiba banyak cerita mengalir dari teman-teman member IPC. Menurutku tema ini akan selalu menarik untuk di bahas, tapi hasil akhirnya seolah tanpa ujung. Hasil akhir hanya akan bermuara pada hati masing-masing wanita.

Masing-masing menceritakan pilihannya, ada yang begitu bangga dengan perannya sebagai FTM tanpa asisten rumah tangga (art), ada yang berperan ganda tapi merasa bisa membagi waktu, ada yang menjadi WM karena keadaan seperti single parent, ada yang menitipkan anaknya pada kakek/nenek karena merasa lebih aman dibandingkan menitipkan anak pada pengasuh, ada yang mempercayakan anaknya di daycare selama ia bekerja.  Berbagai cerita begitu mudah mengalir malam itu.

Aku mencoba share tentang pilihanku sebagai FTM yg sebenarnya atas kesepakatan bersama suami. Awalnya terasa begitu berat, ego pribadi yang merasa sudah kuliah kenapa cuma sebagai ibu rumah tangga, keluarga yang kurang sependapat. Semuanya terasa memberatkan langkah dan membuat goyah keyakinan diri atas pilihan yang sudah dibuat. Seiring berjalannya waktu, melihat begitu banyak wanita yang menginginkan perannya sebagai FTM tapi karena keadaan membuatnya terpaksa bekerja bahkan sebagai tulang punggung keluarga, perlahan hati ini mulai menikmati peran ini dan begitu bersyukur dengan keputusan ini. Perjuangan yang tidak mudah meyakinkan orang tua atas keputusan besar ini.

Seketika kembali teman-teman mulai share tentang diri mereka. Ada yang rela resign dari pekerjaannya di sebuah perusahaan asing, resign dari pns yang diimpikan ratusan orang, karena bukan materi lagi yang menjadi pertimbangan. Salah seorang teman dari Aceh berkata “setuju mba ning, aku juga sepakat dengan suami untuk berbagi peran. Awalnya berat karena ego meninggalkan pekerjaan dengan gaji 11 juta. Tapi merasa sedih ketika suami mengingatkan tentang besarnya amanah Allah berupa anak-anak. Apa yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak akan amanah Nya”. Dan aku pun hampir menangis, bercermin ya benar akan bagaimana kita mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah kelak. Pe er besar buatku dan suami sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak agar menjadi anak yang sholeh, berakhlak baik, berbudi pekerti yang baik. Masih kecil dan sedikit ilmu yang kami punya, masih banyak ilmu yang harus kami cari sebagai bekal menjalani peran sebagai orang tua.

Sungguh diri ini tidak bermaksud mengecilkan hati para WM, aku salut dengan mereka-mereka yang masih bisa bekerja tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu. MasyaAllah luar biasa wanita sepertu itu, peran yang tidak mudah untuk dijalani. Seperti cerita dari teman yang lain, berjuang seorang diri mencari nafkah dan membesarkan seorang putri. Ya beliau single parent dan harus tinggal berjauhan dengan putrinya demi menjalani peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah sang kepala keluarga. Semoga Allah selalu memberikan beliau kekuatan dan keikhlasan dalam menjalani hidupnya.

Pernah menyimak dalam sebuah majelis ilmu dari ustadz firanda andirja. Beliau menyampaikan bahwa seorang muslimah hendaknya berdiam diri di rumah menjalani perannya sebagai istri dan ibu, karena ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Dalam Islam beliau katakan, memberikan kelonggaran seorang muslimah untuk keluar rumah dan mencari nafkah dengan syarat:
# karena keadaan, yang memaksakan seorang muslimah harus bekerja diluar rumah. Seperti single parent harus tetap menafkahi anak-anaknya
# karena suami tidak mampu mencukupi, hingga berhutang. Maka diperbolehkan istri membantu suaminya mencari nafkah
Wallahualam….

Peran sebagai FTM atau WM adalah sebuah pilihan, bukankah dalam hidup kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan? Setiap rumah tangga memiliki jalannya masing-masing meskipun tujuan akhir adalah sakinah mawaddah dan warahmah. Kembali pada pilihan dan kata hati masing-masing, kembali pada ridho suami. Bukankah ridho suami mampu menghantarkan kita pada Jannah Nya. Amin

Ini pilihan yang kami buat, tidak mudah meyakinkan keluarga terdekat, lingkungan bahkan diri sendiri. Semua adalah proses dan setiap proses butuh waktu. Naik turun dalam kehidupan adalah sebuah ritme, dinikmati dan disyukuri. InsyaAllah ini yang terbaik bagi keluarga kami dan anak-anak. Semoga kami bisa selalu menjaga amanah Mu yang begitu berharga ya Rabb. Semoga kelak semua dapat menerima dan menghargai keputusan ini dan semoga Allah meridhoi ikhtiar kami dalam menjaga amanah Nya. Amin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s